Aku tambahkan di sini mengenai gejala dan penanganan yang aku alami, karena ternyata banyak yang menanyakan diriku mengenai hal tersebut.

  • Demam, standar lah ya. Demam ini aku rasakan sejak hari pertama hingga 10 hari. Namun mulai hari ke 7 kayaknya sudah mulai berkurang dikit-dikit.
    Penanganannya ya dengan paracetamol.
  • Sakit sendi, terutama kaki dari paha ke ujung jari kaki
    Seperti biasa, urusan nyeri obatnya 11-12 dengan demam, pakai paracetamol.
  • Sakit tenggorokan
    Untuk yang ini dipercayakan kepada vit C dan obat flu yang bisa mengencerkan dahak (Fluimucil) untuk mengobatinya. Diminum selama sakit tenggorokan masih terasa.
  • Batuk
  • Pilek
  • Diare, BABku cair pada beberapa hari pertama tapi tidak mulas, dan hanya pada pagi hari saja. Biasanya aku BAB 1-2 kali sehari, kali ini bisa 3-4 kali sehari. Tapi hanya paginya yang cair.
    Untuk penanganannya, aku siapkan Entrostop dan Lodia. Namun tidak pernah aku minum sama sekali karena cairnya hanya sekali dan tidak terasa mulas.
  • Gatal dan bercak merah di kulit. Sering tiba-tiba aku merasakan gatal di kulit, pada area yang kecil saja dan lokasinya random. Gatalnya cukup nyelekit tapi nggak bikin merasa pingin garuk sampai keras, dan hanya sebentar. Jadi diusap-usap saja sudah mendingan, nantinya akan tiba-tiba muncul gatal lagi di lokasi lain. Gatal ini muncul 5-10 kali sehari, masing-masing hanya selama 1-3 menit saja. Untuk bercaknya di kulit, hanya muncul 1-2 saja. Merahnya nggak terlalu tua, diameternya sekitar 3-5 cm. Biasa muncul selama setengah hari, kemudian menghilang. Beberapa jam atau sehari kemudian, akan muncul di tempat yang lain. Gatal ini hanya muncul sekitar 5 hari pertama.
    Untuk penanganannya hanya aku usap-usap saja gatalnya, dan bercaknya kasih minyak tawon. 
  • Anosmia, kehilangan kemampuan penciuman ini aku rasakan di hari kesembilan, dan berlangsung hanya selama 3 hari saja. Gejala ini terasa cukup lucu karena bila mencium minyak kayu putih atau minyak angin, hidungku terasa dingin (isis) tapi tidak ada baunya.
    Untuk penanganannya, selain pasrah saja dan berharap bisa segera kembali, aku sering-sering hirup minyak kayu putih. Untungnya memang setelah 3 hari indra penciumanku normal kembali.
  • Sesak. Nah ini yang bikin susah dan paling lama bertahannya. Sesak ini muncul pada hari ke 3 dan berlangsung hingga 1 bulan saat tulisan ini masih diperbarui, Entah sampai berapa lama.
    Karena aku memang ada penyakit asma, jadi pengobatannya ini akan berbeda dengan sesak hanya karena Covid ya, jangan disamakan. Obat kontrol sesak (semprotan Fluticasone Furoate, 2x sehari) tetap aku lanjutkan sesuai instruksi dokter.
    Setiap hari aku menghirup uap dari larutan air garam (NaCl) 4%, aku lakukan 3 kali sehari dengan cara menggunakan nebulizer dengan larutan garam tadi selama 15 menit. Uap dari larutan garam tadi akan membantu membunuh virus dan kuman dalam saluran pernafasan dan paru-paru. Ini aku lakukan selama sebulan sampai sesak tidak terasa mengganggu lagi.
    Selain itu obat semprot Salbutamol (Ventolin) juga aku gunakan setiap merasa payah karena asma. Begitu semprot obat ini, dalam beberapa menit, pernafasan kembali terasa lega lagi, tapi hanya untuk beberapa jam saja.
    Kemudian yang paling penting, adalah ketersediaan oksigen. Untungnya melalui malaikat-malaikat ALLAH yang ikut membantu, aku bisa mendapatkan 2 tabung oksigen dan banyak kaleng Oxycan yang membantu menjalani hari-hari beratku selama ini.

Daftar Halaman

No thoughts on “Dengan komorbid, berjuang melawan Covid-19”

Leave your comment

In reply to Some User