Merasa kondisi sudah membaik, dan isoman ini sudah kujalani 2 minggu, maka aku dan istri berniat untuk menjalani test PCR yang kedua. Tentunya dengan harapan hasil testnya baik kalau bisa negatif. Pagi-pagi kami berburu informasi, mencari lab alternatif selain lab yang terakhir kupakai untuk PCR. Nothing wrong with the last lab, hanya saja mencoba cari yang lebih ekonomis. Lah 1 orang PCR saja hampir 1 juta rupiah, kalau 2 orang sudah 2 juta rupiah. Kalau ada yang lebih ringan dikit, lumayan lah. Kami cari kalau ada yang harganya lebih murah tapi hasilnya tidak terlalu lama. Pilihan jatuh pada QuickTest lab PIK, biayanya 700ribu per orang. Kalau dikali dua untuk aku dan istri, maka selisih dari harga sebelumnya sampai 500ribu. Lumayan kan ngiritnya.

Setelah aku lakukan pembayaran menggunakan internet banking, kami bersiap berangkat. Sampai di tempatnya kami bingung nih, antriannya nggak jelas. Pada meja petugas yang ada dihalaman depan tertulis petugas penyerahan hasil test. Nggak ada petunjuk pendaftaran. Akhirnya nekat aku tanya petugas tersebut, dan kemudian dihadapkan dengan petugas lain. Kami daftarkan diri, menunjukkan bukti pembayaran, dan duduk menunggu panggilan. Tidak lama sih, karena pelaksanaannya dilakukan untuk 3 orang pada 3 ruang berbeda. Tidak lama kemudian, kami dipanggil pada waktu hampir bersamaan. Tidak pakai lama, dan seperti test PCR sebelumnya, swabnya 3 kali yaitu hidung kiri, hidung kanan, dan mulut (faring). Aku diberitahu kalau hasilnya akan dikirim melalui Whatsapp dan e-mail. Setelah itu menunggu sebentar karena istriku belum selesai. Sepertinya prosesnya dia cukup mengharukan karena selesai test dia menangis-nangis sambil bersin cukup lama. Kemudian kami pulang dan menunggu hasil pada esok hari.

Belum sampai besok, ternyata malamnya sudah dapat kiriman hasilnya. Boleh juga QuickTest lab ini, janjinya besok, kasihnya hari ini. Harganya lebih murah pula. Bagaimana dengan hasilnya? Istriku CT sudah cukup bagus yaitu 31, tapi masih dinyatakan positif. Sedangkan aku dapat nilai 25an dari 40 untuk lulus, masih setengah jalan menuju kesembuhan. Yah jadinya aku masih harus banyak istirahat dan pengobatan untuk waktu yang agak lama lagi. Setelah konsultasi dengan dokter, kami disuruh tetap isoman dan perawatan hingga 10-14 hari lagi.

Daftar Halaman

No thoughts on “Dengan komorbid, berjuang melawan Covid-19”

Leave your comment

In reply to Some User