Suatu hari, seorang laki-laki yang memiliki toko di pasar, membeli sebidang lahan pertanian. Dia memiliki seorang anak. Laki-laki itu berkeinginan mengajak anaknya untuk menggarap bersama lahan pertaniannya. Harapan sang ayah adalah bisa mewariskan lahan pertanian tersebut setelah sang anak bisa mengelola lahan itu sendiri.

Pada tahun pertama, sang ayah bekerja sama dengan anaknya mengerjakan lahan tersebut dengan semangat, kerja keras dan suka cita. Lahan pun menghasilkan panen yang sangat memuaskan. Hasil penjualan panen digunakan untuk membeli keperluan hidup, ditabung, dan membeli beberapa ekor kambing dan seekor kuda jantan.


Sang ayah dan anaknya sangat sayang dengan kudanya. Begitu sayangnya, mereka banyak mencurahkan waktu, tenaga dan biaya untuk memelihara si kuda dan kambingnya. Bahkan pada tahun-tahun awal, mereka benar-benar menghabiskan waktunya untuk merawat si kuda dan kambing-kambingnya, tanpa sempat merawat lahan pertaniannya. Sementara itu biaya hidup didapatkan dari usaha toko sang ayah di pasar.

Setelah setahun tidak merawat lahan pertanian mereka, sang ayah mengajak anaknya untuk mulai menggarap lahan pertaniannya. Namun sang anak sepertinya sudah tidak berminat untuk mengerjakan lahan pertanian bersama ayahnya. Dia lebih suka merawat dan membesarkan kuda dari hasil bertani di tahun pertama. Selain itu sang anak ternyata sangat pencemburu, dia tidak membolehkan sang ayah membantu, bahkan berteman dengan petani-petani lain. Mereka sering bertengkar bila sang ayah disapa oleh petani-petani lain. Ironisnya, sang anak sekali-kali juga bermain di rumah petani lain.

Sang ayah masih terus berusaha mengajak anaknya untuk menggarap lahan pertaniannya. Sang anak pun dengan enggannya menggarap lahan tersebut, hanya sebulan sekali, bahkan kadang lahan baru dikerjakan lagi setelah 2 bulan.

Akibat jarangnya lahan tersebut digarap, usaha pertanian tersebut menjadi gagal. Walau sang ayah terus berusaha dan terus berharap kepada sang anak, namun sang anak kian hari kian enggan mengerjakan lahan bersama dengan ayahnya. Padahal sang ayah sungguh berharap bisa mengerjakan bersama lahan pertanian tersebut supaya bisa memberi hasil dan membeli kuda-kuda lain.

Semakin lama, sang anak semakin tidak suka saat ayahnya mengajak mengelola lahannya. Sang ayah dianggap sangat mengganggunya. Dia juga beralasan bahwa waktu dan tenaganya habis untuk merawat kuda dan kambing-kambingnya.

Kini sudah tahun ke 13 sejak sang ayah membeli lahan pertanian tersebut. Sang anak sudah semakin dewasa dan matang. Kuda jantan satu-satunya juga semakin besar, gagah dan pintar. Usaha sang ayah di pasar maju dengan pesat, dan sang ayah mendapat tawaran untuk mengembangkan usahanya di sebuah pertokoan yang lebih baik, dengan toko yang lebih besar. Namun letak pertokoan tersebut sangat jauh, sehingga mereka harus tinggal di atas bangunan toko tersebut. Walau begitu, lokasi lahan pertanian milik mereka justru semakin dekat dengan tempat tinggal mereka saat ini.

Pada akhir tahun itu, terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Sang ayah pulang dari sebuah acara Natal, dan pada acara tersebut, ada beberapa orang petani. Sang anak sangat cemburu dan marah besar kepada ayahnya. Sang anak membanting piring berisi makanan ke depan ayahnya, berteriak-berteriak, dan akhirnya dengan menangis dia memerintahkan ayahnya untuk tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke lahan pertanian yang mereka miliki. Bahkan menyentuh bajak pun dilarangnya.

Selama tahun ke 14, sang anak terlihat sedikit berubah. Dia mengatakan rindu menggarap lahan pertanian mereka. Namun kata hanyalah kata. Yang terjadi adalah, lahan hanya dikerjakan dua sampai tiga bulan sekali, saat sang anak menginginkannya.

Sang ayah yang sudah bersumpah mengikuti kemauan sang anak untuk tidak menyentuh lahan itu lagi, hanya bisa melayani keinginan yang anak dalam mengerjakan lahan tersebut. Dia terpaksa menuruti sang anak untuk mengerjakan lahan itu, tapi hanya saat sang anak menginginkannya. Namun karena lahan hanya dikerjakan sekali dalam beberapa bulan, tetap saja lahan itu tidak menghasilkan apapun.

Pada tahun ke 15, kuda jantan milik mereka sangat menginginkan teman. Sang anak kemudian membicarakan hal itu kepada ayahnya, dan ayahnya mengatakan bahwa bila anaknya menginginkan seekor kuda lagi, maka lahan pertanian tersebut harus digarap supaya hasil tahun berikutnya bisa digunakan untuk membeli kuda lagi.

Sang anak hanya mendengar, namun tidak bersungguh-sungguh rajin menggarap lahan tersebut. Suatu hari saat kuda jantan miliknya mengajak bermain, mengutarakan kembali keinginannya untuk memiliki teman, dan menanyakan apakah sang anak sudah cukup berusaha.

Sang ayah mengatakan bahwa anaknya tidak cukup berusaha, dan lebih buruk lagi lahan pertanian mereka sudah sangat rusak akibat lebih dari sepuluh tahun tidak dirawat dan dikerjakan. Sang ayah pun juga sudah mengalami kekecewaan selama bertahun-tahun, bahkan sudah tidak bisa berharap lagi lahan itu akan bisa menghasilkan panen lagi.

Sang anak tidak terima bila dikatakan ini adalah akibat kemalasannya menyebabkan lahan tersebut tidak bisa menghasilkan. Kemudian dia mengambil kambing-kambing miliknya yang berwarna hitam, kemudian menunjukkan kepada ayah dan kudanya sambil mengatakan bahwa kambing-kambing hitam itulah penyebab lahan tersebut tidak bisa memberi hasil. Sang anak juga mengatakan bahwa bukan salah dia lahan itu tidak bisa memberi hasil panen. Dan bila memang ingin lahan itu memberi hasil panen, maka yang harus dilakukan adalah berkonsultasi dengan ahli pertanian untuk melihat apakah sang ayah dan sang anak masih memungkinkan untuk mengerjakan lahan pertanian itu. Ditambah lagi adanya gangguan dari kambing-kambing hitam miliknya yang kerap merusak lahan itu.

Sang anak pun menawarkan untuk mencari makelar kuda untuk mendapatkan kuda lain, menggunakan hasil toko sang ayah.